RINDU YANG TERTAHAN DI AMBANG IDULFITRI


 🫀Rindu yang Tertahan di Ambang Idulfitri💚


Oleh: Hermida Idris


Setiap Ramadhan datang, ada satu perasaan yang selalu ikut hadir bersamanya yaitu rindu kepada keluarga.


Apalagi ketika Idulfitri mulai mendekat seperti sekarang.

Aroma lebaran terasa di mana-mana, toko-toko mulai penuh oleh orang-orang yang mencari baju baru, pasar semakin ramai oleh mereka yang membeli bahan untuk membuat kue lebaran, orang-orang mulai membicarakan THR, sebagian lainnya sudah sibuk merencanakan perjalanan mudik pulang ke kampung halaman.


Melihat semua itu, hati ini ikut bahagia… tapi juga terasa perih di saat yang sama.


Karena di tengah semua persiapan itu, aku justru harus diam-diam menahan rindu.


Tidak bisa pulang, tidak bisa memeluk merek, bahkan kadang untuk sekadar melakukan video call pun terasa sulit.


Padahal aku tahu, di hari raya nanti akan ada banyak pelukan, anak memohon maaf kepada orangtuanya, suami dan istri saling menggenggam tangan dan saling memaafkan, keluarga berkumpul di satu meja yang sama, tertawa bersama setelah satu bulan menahan lapar dan dahaga.


Sementara aku hanya bisa membayangkan semua itu dari jauh.

Namun setiap kali rindu itu terasa terlalu berat, aku mencoba mengingat kisah hidup kedua orangtuaku.

Dan tiba-tiba rasa sedihku terasa kecil dibandingkan perjalanan hidup mereka.


Ibuku harus kehilangan ayahnya sejak kecil, sementara Ayahku harus kehilangan ibunya ketika usianya baru delapan tahun.

Mereka tumbuh tanpa merasakan hangatnya keluarga yang utuh.

Saat anak-anak perempuan lain bermain di pangkuan ayahnya, ibuku justru harus belajar menerima kenyataan bahwa sosok itu tidak lagi ada dalam hidupnya. Ia tumbuh bersama ibunya, ayah tiri, serta adik-adiknya yang seibu.


Sedangkan Ayahku… kehidupannya bahkan lebih sunyi dari itu.

Setelah ibunya meninggal, ia dan saudara-saudaranya harus berpisah.

Masing-masing dipelihara oleh orang lain.

Ayahku dibesarkan oleh paman dan bibinya yang sangat baik. Begitu baiknya hingga ia sempat percaya bahwa mereka adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.


Ayah bahkan pernah mengira dirinya adalah anak yatim piatu.

Semoga Allah membalas semua kebaikan mereka yang telah merawat seorang anak kecil yang kehilangan ibunya.

Namun takdir Allah seringkali menyimpan kejutan yang tidak pernah kita duga.


Ketika usia Ayah sudah sekitar tiga puluh tahun-an, barulah ia mengetahui bahwa ayah kandungnya ternyata masih hidup.

Aku masih ingat jelas momen itu.


Saat itu aku sedang menghadapi ujian SMP dan bersiap untuk melanjutkan jenjang ke SMA.


Aku melihat sendiri bagaimana Ayah menangis seperti seorang anak kecil yang baru menemukan kembali orangtuanya setelah sekian lama.


Tangisan itu bukan sekadar tangisan orang dewasa.


Itu adalah tangisan seorang anak yang selama puluhan tahun menyimpan kerinduan yang bahkan tidak ia pahami sepenuhnya.

Seiring berkembangnya teknologi dan jaringan yang mulai masuk ke kampung kami, orang-orang mulai menggunakan telepon genggam. Dari situlah Ayah mulai mencoba mencari jejak keluarganya.

Barulah kemudian ia mengetahui bahwa ia sebenarnya memiliki tiga saudara laki-laki lainnya. Mereka berempat, semuanya laki-laki, yang dulu terpisah oleh keadaan.


Ayah pernah bercerita kepadaku, ketika masih kecil setiap kali Idulfitri datang, ia sering menangis diam-diam. Ia merindukan ibunya, ia merindukan ayahnya.


Namun yang paling menyakitkan, wajah ibunya sendiri sudah tidak ia ingat lagi.


Satu-satunya yang masih melekat di hatinya hanyalah sosok perempuan yang menyusuinya dan merawatnya sejak kecil.

Begitu pula dengan ibuku.


Sejak kecil ia juga hidup dengan kerinduan yang sama kepada sosok ayah.


Mungkin karena itulah latar belakang kehidupan mereka terasa begitu mirip.


Seolah-olah Allah memang mendidik mereka dengan cara yang sama.


Mereka dididik oleh kehilangan.

Mereka dididik oleh kesunyian.

Mereka dididik oleh kerasnya kehidupan.


Keadaan ekonomi bahkan membuat mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan hingga SMP.


Mama pernah bercerita, dulu ia sering merasa sangat malu ketika melihat teman-temannya bisa melanjutkan sekolah. Kadang ia hanya bersembunyi agar tidak perlu bertemu dengan mereka.


Ayahku sendiri adalah orang yang sangat pendiam. Sejak kecil ia terbiasa memendam semuanya sendirian.


Namun di balik sikap diamnya itu, tanggung jawabnya begitu besar. Kasih sayangnya begitu kuat.


Seingatku, Ayah tidak pernah melakukan kekerasan kepada ibuku.

Sementara ibuku adalah kebalikannya. Ia adalah perempuan yang banyak bicara.


Sejak kecil ia sudah memikul tanggung jawab menjaga adik-adiknya. Apalagi sebagian besar dari mereka adalah laki-laki yang keras kepala.


Bahkan seorang ibu yang menghadapi anak laki-laki saja sering merasa kewalahan. Apalagi ibuku yang saat itu masih sangat muda, tetapi harus menjadi tempat bergantung bagi banyak adik.


Dari ibuku pula aku belajar tentang kerasnya kehidupan.


Tentang bagaimana seseorang bisa tetap berdiri walaupun berkali-kali dijatuhkan keadaan.


Tentang bagaimana seseorang bisa tetap kuat bahkan ketika ia sendiri sebenarnya lelah.


Kisah cinta Ayah dan Ibuku juga terasa unik.


Yang satu pendiam.


Yang satu lagi tidak pernah kehabisan kata.


Namun justru karena perbedaan itulah Allah mempertemukan mereka untuk saling melengkapi.


Nenekku dari pihak ibu dulu adalah perempuan yang sangat kuat, seorang wanita yang bekerja mencari nafkah di luar rumah. Ibuku sebagai anak perempuan pertama membantu mengurus semua adiknya.


Baik adik kandung maupun adik seibu.


Itulah sebabnya ibuku tumbuh menjadi perempuan yang tegas dan banyak bicara.


Walaupun begitu, kadang ia tetap merasa disalahkan oleh sebagian adik-adiknya.


Padahal ketika nenekku meninggal, mereka sebenarnya masih sangat beruntung karena masih memiliki seorang kakak perempuan yang tetap mengayomi mereka.


Ibuku tetap menjaga mereka. Dan Ayahku selalu berdiri di samping ibuku. Mendukungnya.


Walaupun pendidikan kedua orangtuaku tidak tinggi, Alhamdulillah mereka bisa membaca buku dan membaca Al-Qur'an. Dan mungkin itulah bekal paling berharga yang mereka miliki.


Ketika aku mengingat semua perjalanan hidup mereka, rasanya aku tidak punya alasan untuk terlalu lama larut dalam kesedihan.


Ya, aku memang jauh dari mereka.


Ya, aku mungkin tidak bisa pulang di Idulfitri ini.


Namun setidaknya aku masih bisa mendengar suara mereka, masih bisa mengetahui bahwa mereka ada.


Dan itu saja sudah cukup untuk membuatku bersyukur.


Walaupun begitu… aku tetap manusia biasa.


Manusia yang punya hati, manusia yang punya perasaan, dan manusia yang… tetap merindukan orangtuanya.


Comments

Popular posts from this blog

Jahit Tangan Pertamaku: Cerita Kecil Tentang Belajar

Puisi Ujian

Diary 2