Jahit Tangan Pertamaku: Cerita Kecil Tentang Belajar
🫀Jahit Tangan Pertamaku: Cerita Kecil Tentang Belajar💚
Oleh: Hermida Idris
Gamis ini sebenarnya bukan gamis baru. Gamis ini adalah pemberian dari tetangga. Namun setelah beberapa kali kupakai, ternyata ada bagian yang sobek.
Daripada dibiarkan begitu saja, aku pun punya ide sederhana yaitu membongkarnya dan menjadikannya gamis kecil untuk putriku (Jannah).
Akhirnya aku menjahitnya sendiri. Bukan dengan mesin jahit, melainkan dengan tangan. Aku menggunakan teknik tanam benang dan obras manual seadanya.
Aku mengukur sendiri lingkar dada anakku, lingkar ketiaknya, juga panjang gamis yang kira-kira pas untuknya. Untuk pola, aku tidak membuat pola baru. Aku hanya menyalin pola dari gamis aslinya semacam copy paste sederhana.
Setelah selesai, aku langsung memakaikannya kepada putriku.
Hasilnya memang belum terlalu rapi. Jahitannya kadang masih sedikit bengkok. Tapi yang penting bagiku, gamis itu jadi.
Suamiku pun sempat berkata,
“Dek, pintar juga kamu menjahit baju buat anak?”
Aku tertawa kecil lalu menjawab bercanda,
“Iyalah, kamu baru tahu? Kan sudah kubilang saya suka menjahit. Tapi kakak saja yang belum mau belikan mesin jahit.”
Dia tersenyum dan menjawab,
“Bukan tidak mau. Tapi memang belum punya uang.”
Ucapan seperti itu sebenarnya pernah juga keluar dari Mamaku.
Mama pernah bertanya,
“Memangnya kakak bisa menjahit?”
Sapaan “Kakak” adalah panggilan anak pertama untukku dalam keluarga.
MasyaAllah, mamaku sayang.
Sebenarnya selama kuliah dulu, aku tidak hanya belajar ilmu konseling dan psikologi saja. Mungkin hanya sekitar tiga puluh persen dari waktuku yang benar-benar fokus pada ilmu itu. Sisanya, aku gunakan untuk belajar banyak hal lain.
Aku belajar ilmu agama, mengikuti kursus online tentang dunia kepenulisan, belajar dasar-dasar IT, bahkan diam-diam melatih keterampilan menjahit dengan tangan.
Semua itu kulakukan saat merantau, dengan memanfaatkan internet dari kamar sederhana.
Aku tidak terlalu banyak aktif di luar. Tapi aku berusaha agar waktuku tidak terbuang sia-sia.
Bahkan setelah menikah pun, aku masih suka belajar banyak hal.
Bedanya sekarang, tim penilai hasil belajarku adalah suami dan anakku sendiri.
Kalau aku menjahit baju, anakku yang menjadi “model pemakai”, dan suamiku menjadi “tim penilai”. Walaupun sebenarnya aku menyuruh orang yang tidak bisa menjahit untuk menilai jahitanku.
Lucu juga kalau dipikir-pikir.
Begitu pula saat belajar memasak. Suami dan anak-anak juga menjadi tim penilai rasa.
Aku belajar memasak bukan semata-mata untuk menyenangkan orang lain. Sejujurnya sejak masih lajang, aku belajar memasak untuk diriku sendiri untuk membuat makanan sesuai seleraku.
Apalagi selera makan aku dan suamiku cukup berbeda.
Contohnya saja tumis kangkung.
Aku suka tumis kangkung yang sedikit air dan agak berminyak. Sedangkan suamiku suka tumis kangkung yang banyak airnya, sampai rasanya seperti sayur kangkung sedang berenang di kuah.
Begitulah rumah tangga. Kadang-kadang suami juga bisa sedikit “merepotkan”. Maunya diikuti keinginannya. Kalau istri salah sedikit saja, bisa langsung ngambek atau diam seribu bahasa.
Tapi kalau mereka yang salah, maunya dipahami.
Namun tidak apa-apa. Bukankah rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah memang memiliki bumbu-bumbu cerita seperti itu?
Aku pernah mendengar seorang ustazah berkata bahwa dalam rumah tangga, sering kali yang diperdebatkan justru hal-hal kecil.
Dan mungkin memang benar.
Apalagi aku dan suamiku sama-sama anak pertama dalam keluarga. Tentu kita tahu bagaimana karakter anak pertama yaitu mandiri, keras kepala, dan terbiasa memimpin.
Biasanya pasangan yang serasi adalah anak pertama dengan anak bungsu. Tapi Allah justru mempertemukan dua anak pertama dalam satu rumah tangga.
Sebuah skenario yang unik.
Aku mencoba memposisikan diri sebagai “adik” karena usiaku lebih muda darinya. Sedangkan dia mengambil peran sebagai “kakak” yang melindungi dan mengatur.
Mungkin itu juga yang membuatku terbiasa memanggilnya dengan sebutan, “Kakak.”
Oh iya, sebenarnya tulisan ini awalnya ingin bercerita tentang jahitan gamis kecil tadi.
Tapi entah bagaimana, ceritanya malah melebar sampai ke kisah rumah tangga.
Begitulah kalau sudah asyik menulis.
Jahitanku sendiri sebenarnya masih jauh dari kata rapi. Kadang-kadang masih sedikit bengkok. Aku juga belum benar-benar paham tentang pecah pola. Masih banyak yang harus kupelajari.
Namun aku tidak terlalu khawatir dengan semua itu.
Karena bagiku, hidup memang tentang terus belajar. Tentang mencoba, gagal sedikit, lalu memperbaikinya lagi.
Mungkin juga itu sebabnya aku sangat menyukai arti namaku sendiri.
Namaku Hermida Idris.
Kata Hermida sering dimaknai sebagai perempuan yang memiliki kehormatan, kemuliaan, atau seseorang yang dijaga martabatnya. Sedangkan Idris dalam bahasa Arab berkaitan dengan kata darasa yang berarti belajar atau menuntut ilmu.
Dalam kisah para nabi, Nabi Idris ‘alaihis salam dikenal sebagai sosok yang gemar menulis dan sangat mencintai ilmu pengetahuan.
Jika dua nama itu dirangkai, aku sering memaknainya secara sederhana sebagai:
seorang perempuan yang berusaha menjaga kehormatan dirinya dengan terus belajar sepanjang hidupnya.
Dan mungkin, jahitan kecil pada gamis anakku hari ini hanyalah salah satu bagian kecil dari proses belajar itu.
Belajar menjadi lebih sabar, belajar menjadi lebih terampil. Dan belajar menjadi manusia yang tidak berhenti bertumbuh.
Sedikit demi sedikit.

Comments
Post a Comment