Sebuah Nasihat dan Pertanyaan

 ‎




🫀Sebuah Nasihat dan pertanyaan💚

‎By: Hermida Idris

‎Aku sering mendengar nasihat seperti ini:

‎"Menikahlah dengan lelaki yang kadar cintanya jauh lebih besar daripada cintamu kepadanya. Karena jika cinta lelaki itu lebih besar, maka tanggung jawab dan kasih sayangnya pun tidak main-main."

‎Tapi sampai hari ini, aku masih sering bertanya dalam hati: "bagaimana cara mengetahuinya?"

‎Apalagi saat kita masih sendiri. ‎Rasanya sulit sekali menakar isi hati seseorang.

‎Dulu, sebelum dia menjadi suamiku, aku hanya melihatnya sebagai lelaki yang pernah mengatakan cinta. ‎Ia pernah meminta nomor bapakku. Pernah berbicara dengan beliau. Kadang juga berbincang denganku.

‎Lalu tiba-tiba… ia menghilang lama tanpa kabar.

‎Sampai aku berpikir, mungkin dia sudah menikah dengan orang lain.

‎Namun ternyata aku salah.

‎Pada hari wisudaku, diam-diam ia menonton siaran langsungnya. Ia menunggu saat aku tampil, lalu menyimpan momen itu dengan tangkapan layar di hpnya.

‎Setelah itu ia menelepon bapakku.

‎Dengan suara yang penuh kesungguhan ia berkata, "Bapak, apakah saya sudah boleh datang untuk menikahi anak pertama Bapak?"

‎Bapakku lalu menyampaikan kabar itu kepadaku. "Laki-laki itu ingin datang untuk menikahimu."

‎Saat itu aku terdiam cukup lama.

‎Kalau dipikir-pikir lagi…

‎sepertinya lelaki ini memang lebih bersungguh-sungguh dari laki-laki yang aku kenal lainnya.

‎Padahal sebenarnya aku memang pernah memiliki rasa suka kepadanya.

‎Tapi hanya rasa suka yang biasa saja.

‎Tidak besar. Tidak juga terlalu dalam.

‎Namun akhirnya aku berkata dalam hati, “Bismillah.”

‎Aku menerimanya.

‎Karena aku pernah mendengar dalam sebuah ceramah bahwa,

‎jika seorang lelaki benar-benar serius, maka cara yang ia tempuh akan lebih benar.

‎Dan benar saja.

‎Pernikahan kami terasa mengalir begitu saja.

‎Allah mempermudah banyak hal.

‎Namun seperti rumah tangga pada umumnya, kami juga pernah melewati ujian yang sangat berat.

‎Ada masa ketika rasanya aku ingin menyerah. Bahkan ingin pergi meninggalkannya.

‎Tapi setiap kali hati terasa lelah, kami mencoba mengingat kembali perjalanan cinta kami.

‎Tidak mudah bagi suamiku datang jauh-jauh dari Kabupaten Muna ke Ternate khususnya pulau Obi Jikotamo hanya untuk meminangku tanpa ba-bi-bu dengan cepat menikahiku.

‎Dan tidak mudah pula bagiku menghadapi berbagai cibiran orang yang berkata macam-macam tentang perempuan yang sudah selesai kuliah lalu cepat memilih keputusan untuk menikah.

‎Namun pada akhirnya kami belajar satu hal yaitu mengingat kebaikan pasangan ketika hati sedang dipenuhi luka.

‎Saat aku sakit, dialah yang merawatku.

‎Bahkan ketika aku pernah jatuh dari motor hingga tidak bisa berjalan, dialah yang menggendongku, merawatku, dan mengurusku hingga pulih.

‎Meskipun kadang sambil marah-marah kecil, tapi tetap saja ia tidak pernah pergi.

‎Ketika aku melahirkan, ia selalu ada di sampingku. Dan orang pertama yang khawatir kondisiku sebelum anak yang kulahirkan.

‎Saat aku kesakitan, aku melihatnya menangis diam-diam.

‎Saat itu aku sadar…

‎lelaki yang terlihat begitu kuat di hadapan dunia, ternyata bisa begitu rapuh di hadapan orang yang ia cintai.

‎Begitu pula sebaliknya.

‎Ketika ia sakit, aku juga yang memandikannya, merawatnya, dan menjaganya.

‎Mungkin begitulah rumah tangga.

‎Bukan tentang siapa yang paling kuat mencintai.

‎Tapi tentang dua orang yang tetap memilih bertahan, bahkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

‎Dan sampai hari ini…

‎aku masih bertanya-tanya dalam hati:

‎Bagaimana sebenarnya cara wanita single mengetahui bahwa cinta seorang lelaki kepada kita jauh lebih besar daripada cinta kita kepadanya?

‎Karena cinta seorang lelaki akan terlihat saat ia sudah menikah, bukan sebelum.

Comments

Popular posts from this blog

Jahit Tangan Pertamaku: Cerita Kecil Tentang Belajar

Puisi Ujian