Cerpen Islami Kisah Nyata: Setelah Keguguran dan Ujian Pernikahan, Allah Memberikan Hadiah Terbaik.



Cerpen Islami Kisah Nyata: Setelah Keguguran dan Ujian Pernikahan, Allah Memberikan Hadiah Terbaik.

Oleh: Hermida Idris

Langit malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Azzahra duduk di tepi ranjang sambil memegang sebuah buku kecil berwarna hijau. Buku itu adalah diary yang sudah lama ia gunakan untuk menuliskan doa-doanya kepada Allah.

Di dalam kamar yang sederhana itu hanya ada suara kipas angin yang berputar pelan.

Matanya kembali membaca satu kalimat yang pernah ia tulis dua tahun lalu. "Ya Allah, jika Engkau mengizinkan, saya ingin menjadi seorang ibu."

Kalimat itu ditulis dengan tinta yang sedikit pudar, tetapi kenangannya masih sangat jelas di hati Azzahra.

Semua berawal pada hari Senin, 18 Oktober 2021. Hari itu adalah hari yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.

Hari ketika ia resmi menjadi seorang istri. Hari ketika Allah menghalalkan cintanya dengan seorang laki-laki bernama Habib.

Pernikahan mereka tidak begitu mewah. Tidak ada gedung besar atau pesta yang berkilauan. Hanya akad sederhana di rumah keluarga Azzahra dan resepsi infishol (pernikahan yang dipisah antara tamu lelaki dan perempuan)

Namun bagi Azzahra, hari itu terasa seperti permulaan dunia yang baru. Ia ingat dengan jelas bagaimana tangannya bergetar ketika Habib mengucapkan ijab kabul.

Suara Habib saat itu terdengar mantap namun juga penuh haru.

Setelah akad selesai, semua orang mengucapkan “Alhamdulillah”.

Ibunya terharu dan bahagia.

Ayahnya memeluk Habib dengan hangat.

Dan Azzahra… ia hanya bisa menundukkan wajah sambil menahan air mata.

Hari itu ia belajar satu hal bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua orang yang saling mencintai. Tetapi juga menyatukan dua keluarga, dua perjalanan hidup, dan dua takdir yang ditulis oleh Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (TQS. Ar-Rum: 21)

Ayat itu dibacakan oleh ayahnya ketika menasihati mereka setelah menikah.

Hari-hari pertama pernikahan mereka dipenuhi dengan kebahagiaan kecil. Makan bersama, berjalan sore, berbagi cerita tentang masa lalu.

Namun seperti banyak pasangan baru lainnya, mereka juga menunggu satu hadiah yang sering dinanti oleh pasangan suami istri yaitu anak.

Waktu berjalan.

Satu bulan.

Enam bulan.

Satu tahun.

Dan pada akhirnya, pada akhir tahun 2022, doa itu akhirnya dijawab.

HPHT Azzahra adalah 31 Desember 2022.

Hari ketika mereka mengetahui bahwa Azzahra sedang mengandung. Hari itu, rumah kecil mereka dipenuhi dengan tangisan bahagia.

Habib memeluk Azzahra dengan sangat erat. “Alhamdulillah… akhirnya Allah mengabulkan doa kita,” katanya dengan suara bergetar.

Azzahra juga menangis. Ia langsung menyampaikan kepada kedua orangtuanya dan memberi tahu mertuanya di seberang sana.

Namun kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama. Pada bulan Maret 2023, Allah menuliskan takdir lain.

Janin yang selama ini mereka jaga harus kembali kepada-Nya. Azzahra mengalami keguguran.

Hari itu terasa seperti mimpi buruk. Rumah sakit. Tangisan.

Doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap. Namun Allah telah menentukan takdir yang berbeda.

Ketika dokter menyampaikan kabar itu, Azzahra hanya terdiam. Air matanya jatuh tanpa suara.

Habib menggenggam tangannya dengan kuat. Namun di dalam hatinya, Azzahra merasa ada sesuatu yang hilang.

Sesuatu yang bahkan belum sempat ia lihat wajahnya. Namun ujian mereka tidak berhenti di situ.

Beberapa orang mulai berbicara. Ada yang berkata bahwa Azzahra terlalu lelah bekerja atau Habib yang lemah menjaga kandungan istrinya.

Ada yang menyalahkan kebiasaannya. Ada yang bahkan menyindir seolah-olah mereka berdua telah melakukan kesalahan besar.

Cemoohan itu terasa seperti luka baru.

Namun Habib selalu berusaha menenangkan hatinya.

Suatu malam ia berkata pelan kepada Azzahra. “Allah tidak pernah salah dalam menulis takdir kita.”

Ia kemudian membaca sebuah ayat yang sangat menenangkan.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui."

(QS. Al-Baqarah: 216)

Perlahan-lahan mereka belajar menerima. Belajar mengikhlaskan. Belajar percaya bahwa Allah pasti memiliki rencana yang lebih baik.

Namun ujian mereka belum selesai.

Pada bulan Agustus 2023, sebuah kabar datang dari keluarga Habib.

Kabar yang membuat hati Azzahra kembali diuji.

Habib harus pulang ke kampung halamannya di Sulawesi Tenggara, Kabupaten Muna.

Ketika Habib menyampaikan kabar itu, Azzahra langsung terdiam. Ia merasa seperti sedang berdiri di persimpangan jalan.

Sebelum menikah, ia pernah meminta beberapa syarat kepada Habib dan salah satunya adalah ia tidak ingin tinggal jauh dari kedua orangtuanya.

Bagi Azzahra, berpisah dengan orangtua adalah hal yang sangat berat. Apalagi jarak antara Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara bukanlah jarak yang dekat.

Malam itu mereka berbicara cukup lama. Air mata mengalir di kedua mata mereka.

Habib berkata dengan suara yang sangat pelan. “Dek… Kakak tunggu keputusanmu sampai besok pagi.”

Azzahra menunduk.

Habib melanjutkan kalimatnya. “Kamu itu limited edition bagi kakak. Kakak tidak pernah membayangkan hidup tanpa kamu.”

Air mata Habib jatuh di pipinya.

Azzahra belum pernah melihat suaminya menangis seperti itu. Tapi, ia tak tahu kalimat yang diucapkan suaminya itu tulus atau hanya sekedar menghiburnya.

“Kalau kamu ikut kakak, kakak akan sangat bahagia. Tapi kalau kamu memilih tinggal di sini… kakak akan tetap mencintai kamu. Hanya saja hidup kakak akan terasa sangat sepi.”

Malam itu Azzahra hampir tidak tidur. Ia berwudhu. Melaksanakan shalat. Meminta petunjuk kepada Allah.

Allah berfirman:

"Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat."

(QS. Al-Baqarah: 45)

Namun karena kelelahan, Azzahra tertidur menjelang Subuh.

Ia bermimpi. Mimpi yang terasa sangat jelas. Ketika ia bangun, hatinya terasa lebih tenang.

Setelah shalat Subuh berjamaah bersama Habib di kamar, ia akhirnya berkata pelan.

“Kak… saya ikut Kakak.”

Habib langsung memeluknya. Ia bahkan menggendong Azzahra dengan penuh kebahagiaan.

Kemudian ia sujud syukur. “Alhamdulillah…”

Namun ada satu hal lagi yang harus mereka lakukan. Meminta izin kepada orangtua Azzahra.

Ayahnya terkejut ketika mendengar keputusan itu. “Tiada angin tiada hujan… kenapa kalian tiba-tiba ingin pulang?” katanya dengan suara bergetar.

Habib menjelaskan semua keadaan yang sebenarnya.

Ayah Azzahra akhirnya mengangguk. Namun air mata tetap mengalir di wajahnya. Ia memeluk Habib seperti seorang ayah memeluk anaknya sendiri.

Ibunya juga menangis sambil memeluk mereka berdua. Hari keberangkatan itu terasa sangat berat.

Ayah Azzahra bahkan tidak sanggup mengantar mereka ke pelabuhan. Ia hanya berdiri di depan rumah sambil melambaikan tangan dan seolah menyibukkan diri dengan pekerjaan lain.

Perjalanan mereka menuju Sulawesi Tenggara tidak mudah. Mereka harus menempuh perjalanan selama enam hari dengan tiga kali berganti kapal.

Namun selama perjalanan itu, mereka banyak berbicara. Tentang masa depan, tentang harapan, tentang doa-doa yang mereka panjatkan kepada Allah.

Satu bulan setelah tinggal di kampung halaman Habib, sebuah keajaiban terjadi.

Azzahra kembali hamil. HPHT 1 September 2023.

Ketika mengetahui kabar itu, mereka berdua hanya bisa menangis.

Tangisan syukur.

Habib memeluk Azzahra sambil berkata pelan. “Lihat… Allah tidak pernah meninggalkan kita.”

Azzahra teringat satu ayat yang sangat indah.

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

(QS. Al-Insyirah: 6)

Dan benar. Di balik semua kesedihan yang mereka alami… Allah ternyata sedang menyiapkan hadiah terbaik.

Seorang anak yang kini tumbuh di dalam rahimnya.

Kini setiap malam Azzahra sering berbicara kepada bayi kecil di dalam perutnya.

“Nak… kelak kamu akan tahu bahwa hidup ini tidak selalu mudah.”

“Namun selama kita percaya kepada Allah, selalu ada jalan keluar.”

Azzahra kemudian berdoa dengan penuh harap. “Ya Allah… jadikanlah anak kami anak yang salih dan salihah. Hafizh dan hafizhah. Jadikan mereka penyejuk hati kami dan penolong kami menuju surga-Mu.”

Azzahra tersenyum sambil mengusap perutnya.

Langit malam di kampung itu terasa sangat tenang. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Ia benar-benar merasakan kedamaian.

Karena ia akhirnya memahami satu hal bahwa setiap ujian yang Allah berikan… selalu menyimpan hadiah yang luar biasa bagi mereka yang sabar.

______________

Semoga bermanfaat.



Comments

Popular posts from this blog

Jahit Tangan Pertamaku: Cerita Kecil Tentang Belajar

Sebuah Nasihat dan Pertanyaan

Puisi Ujian